DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Kabar kemunculan harimau di Desa Asam Jaya, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, akhirnya terungkap sebagai informasi yang bersumber dari foto rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dua warga setempat, masing-masing berinisial YR (29) dan MN (16) pelajar kelas I SMA, mengakui foto yang memicu kehebohan tersebut bukanlah dokumentasi harimau sungguhan.

Pengakuan itu disampaikan saat keduanya dimintai klarifikasi di Polsek Jorong, Selasa (20/10/2026) sore, setelah sebelumnya menjalani klarifikasi di Kantor Desa Asam Jaya bersama aparat kepolisian dan instansi terkait.

Dalam keterangannya, MN mengaku awalnya hanya iseng memotret area di sekitar kamar kecil yang berada di belakang rumahnya pada pagi hari. Di sekitarnya berupa semak.

Foto tersebut kemudian dikirimkannya ke grup WhatsApp teman-teman sekolah.

Namun, foto itu kemudian diedit menggunakan AI oleh orang lain hingga menampilkan sosok harimau.

Gambar hasil rekayasa tersebut kemudian menyebar dengan cepat. Karena tampilannya menyerupai foto asli, informasi mengenai keberadaan harimau pun memicu kekhawatiran warga.

Sementara itu, YR mengaku turut membuat gambar serupa. Ia memotret area halaman di depan rumahnya, kemudian mengolahnya menggunakan AI hingga muncul sosok harimau.

Menurut pengakuannya, gambar tersebut dibuat untuk menunjukkan bahwa foto semacam itu dapat direkayasa menggunakan teknologi AI. 

Namun, gambar itu juga ikut menyebar dan memperbesar kebingungan di tengah masyarakat.

Kedua warga tersebut akhirnya mengakui bahwa foto yang beredar bukan bukti adanya harimau sungguhan di Asam Jaya.

Mereka kemudian diminta menandatangani surat pernyataan berisi permintaan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang ditimbulkan serta janji tidak mengulangi perbuatan serupa.

Dalam surat tersebut, keduanya juga menyatakan kesediaan menjalani proses hukum apabila kembali mengulangi perbuatannya.

Kapolsek Jorong, AKP Rahmadani, menyampaikan bahwa penanganan terhadap keduanya akan dilakukan melalui pembinaan, dengan mempertimbangkan bahwa salah seorang di antaranya masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gambar yang tampak nyata di media sosial belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya. 

Verifikasi tetap diperlukan sebelum sebuah konten dipercaya atau diteruskan kepada orang lain.

(derapwaktu.com/banyulangit roynalendra nareswara)